TUGAS LOGIKA

Tugas logika, ditinjau dari tugasnya (logika) untuk mencapai kebenaran, ilmu pengetahuan itu dapat dipandang sebagai latihan dalam usaha mencari, menyusun, menerapkan, dan menghayati. Walaupun demikian, kebenaran yang dicapai ilmu pengetahuan ini, juga tidak mutlak dan tidak mencukupikarena hanya merupakan satu pendekatan yang masih perlu dikembangkan terus, dan perlu disempurnakan, ditingkatkan dan diperbaharui lagi, diganti dengan kebenaran-kebenaran baru dengan nilai-nilai yang lebih tinggi lagi. 

Ilmu filsafat empiris dan eksperimental, yang tujuannya adalah mencari kebenaran secara umum dalam bentuk term, asumsi-asumsi, hukum-hukum, formula-formula mengenai fakta-fakta alamiah maupun pengalaman manusia itu sendiri. Ilmu adalah irama nalar, dan gendangnya adalah proses. Irama dan gendang tak dapat dipisahkan atau dengan kata lain seiring sejalan, apakah irama itu dan proses tidak sejalan bukan kebenaran yang diperoleh, melainkan kegaduhan atau kesalahan/kekeliruan.
Ilmu beroperasi dalam batas ruang dan waktu melalui pemikiran logis dan melakukan riset, atau mampu melakukan ekperimen-ekperimennya. Tetapi disaat ia tidak mampu mencarikan data-data mengevaluasi suatu persoalan diluar batas wilayahnya,maka wewenang ilmu diserahkan kepada akal kembali untuk dipikirkan lagi.Ketika inilah akal menyerahkan mandatnya kepada filsafat, disaat itulah ilmu ditinggalkan dan orang memasuki dunia filsafat. 

Bertolak dari apa yang mudah diketahui (pengetahuan) dan berpinjak pada berpikir valid (logika) berkata para filsafat  untuk mencoba menerobos wilayah lebih tinggi lagi yang tidak bisa ditemukan oleh ilmu pengetahuan. Jika ilmu pengetahuan dalam usahanya mencapai kebenaran telah menjelajahi alam semesta dan manusia dengan cara jalan kaki, mengadakan peninjauan terhadap fenonema terhadap fenonema, aturan, hukum dan kenyataannya maka filsafat memikul beban lebih berat lagi. Ia harus terbang tinggi ke angkasa, mencari asal dan sebab-sebab yang pertama, serta mencari hakikat segala sesuatu itu dengan kacamata abstraksi metafisis. 

Ketika ilmu pengetahuan sudah lebih berjalan filsafat menukik ke bawah. Jadi posisi filsafat berada diantara ilmu pengetahuan (sains) dan agama (religie), setiap pengetahuan yang definitive dimasukkan ke dalam sains, dan setiap kepercayaan yang dragmatis digolongkan kepada agama. Filsafat punya kedudukan diseluruh benua tanpa pemilik  (no man’s land) dan memainkan peranannya diantara ilmu dan agama. Filsafat memang boleh buat semacam “gerakan nalar” dimana wataknya tidak mau dibatasi oleh apapun kecuali dengan ketidakmampuannya sendiri, maka kita sekarang perlu mengatur posisi berhadapan dengan hasil karya otak genius, dan harus bisa menempatkan logika dan agama sebagai aparat koreksinya.

Anton Mardoni

Anton Mardoni, S.IP.,M.Si, lahir di Masmambang, 12 Desember 1980. Riwayat pendidikan diantaranya SD Negeri Masmambang Kecamatan Talo Kabupaten Bengkulu Selatan Provinsi Bengkulu, lulus Tahun 1993, SMP Negeri Kampai Kecamatan Talo Kabupaten Bengkulu Selatan, lulus Tahun 1996, SMU Negeri 1 Talo Kecamatan Talo Kabupaten Bengkulu Selatan Provinsi Bengkulu, lulus tahun 1999. Melanjutkan pendidikan di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Bengkulu, Program Studi Ilmu Administrasi Negara, lulus Tahun 2006. Melanjutkan pendidikan Pascasarjana Magister Ilmu Administrasi, FISIP Universitas Bengkulu, lulus Tahun 2015. Menjadi Dosen Tetap Universitas Musi Rawas, Sekretaris Program Studi Ilmu Administrasi Negara FISIP Universitas Musi Rawas, Tahun 2010-2011, Ketua Program Studi Ilmu Administrasi Negara FISIP Universitas Musi Rawas, Tahun 2011-2015. Pembantu Dekan I FISIP Universitas Musi Rawas, Tahun 2017-2021. Wakil Dekan I FISIP Universitas Musi Rawas, Tahun 2021-sekarang.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama