Sejarah Ringkas Logika, pertama kali yang mengajarkan logika adalah kaum sofis (sebelum abad ke-5), kemudian selanjutnya oleh Sukrates, Plato dan Aristoteles. Kaum sofis menamakan dirinya kelompok orang yang bijaksana, karena mereka memiliki keahlian dalam bidang ilmu pengetahuan seperti: matematika, astronom terutama tata bahasa. Kemudian mereka mengembangkan dan mengajarkan kepada anak-anak muda ilmu retorika (ilmu berpidato), ceramah-ceramah, jenis berdebat dan cara berargumentasi.
Ilmu yang diajarkan oleh kaum Sofis tersebut dibantu dan ditentang Sokrates dengan alasannya ilmu-ilmu tersebut tidak dapat dipertanggung-jawabankan secara moral, karena kaum sofis dimanfaatkan oleh raja yang Prikles yang berkuasa cukup lama dan memerintah rakyat Athena. Sokrates mengatakan tindakan bijaksana itu rakyat harus diajak dialog/wawancara, karena dengan cara ini kita memperoleh masukan dan memahami kehendak rakyat, bukan dengan jalan otoriter. Sokrates menyatakan kaum sofis adalah penipu rakyat dengan memainkan kata yang indah, dan puitis.
Akhirnya Sokrates dapat menumbangkan kaum Sofis, dengan cara mengajar menggunakan metode dialog yang disebut dengan “metode Dialetika” dengan metode ini mempunyai peranan hakiki didalam menentukan nasib hidupnya. Metode Sokrates ini disebut juga “metode kebidanan”(metode Mayeustius)” artinya yang membantu melahirkan pemikiran.
Plato tidak mengajarkan logika secara khusus, melahirkan dengan ide, idea berasal dari kata yunani”egois” yang artinya gambaran, rupa yang dilihat atau sesuatu yang sempurna. Idea ini bukan ide seperti lazimnya pembicaraan kita sehari-hari, yaitu ide/gagasan. Dalam bahasa kita dari kata ide ini terbentuk kata yang terkenal yaitu “ideal” artinya sesuatu yang sempurna. Sesuatu yang sempurna ini bagi sesuatu yang dicita-citakan. Ajaran ideal Plato kita mendapat pengertian dan pengertian itu bagian dari putusan.Putusan mencetuskan “pengetahuan”, secara Implisit inilah logika yang diajarkan Plato.
Baik Sokrates maupun Plato belum menyebut secara tegas istilah logika, maka berikutnya Aristoteles yang secara tegas dan terperinci mengajarkan logika. Dalam logika ini Aristoteles memakai istilah “analitika”. Analitika ini dipergunakan untuk menyelidiki argumentasi yang bertitik tolak dari putusan-putusan yang benar. Selain Analitika ia memakai istilah “dialektika”, untuk menyelidiki argumen-argumen dari Hipotesa / putusan yang tidak pasti kebenarannya. Jadi bagi Aristoteles ; analitika dan dialektika merupakan dua cabang dari ilmu yang sekarang dinamakan “logika”.
Abad Pertengahan (Abad IX-XVI); Logika abad pertengahan adalah kelanjutan dari logika Aristoteles, tokohnya adalah Thomas Aquinus (1224-1274). Pada abad ini juga Raymundus Hullus menemukan metode logika yang baru disebut “Ars Magna”, yaitu semacam aljabar pengertian. Aljabar ini bermaksud membuktikan kebenaran-kebenaran yang tinggi. Logika ini dilanjutkan oleh Thomas Hobbes dan John Locke. Abad Zaman Modern (Abad XII-XX); Tokoh logika pada zaman ini dikembangkan oleh Rene Desoartes, ia sebagai julukan Bapak ilmu modern. Karena itu berpengaruh besar terhadap metode penyelidikan ilmu yang berlaku sampai sekarang. Rene Desortes menggunakan metode “tidak tahu”, dari metode ini berkembang menjadi metode “ragu”, jadi keragu-raguan ini merupakan dasar pikiran kita.
Di India logika lahir karena Gautama sering berdebat dengan golongan Hindu Fanatik yang menentang ajaran kesusilaannya. Dalam Nyaya Sutra, logika diuraikan secara sistematis. Hal ini mendapat komentar dari pihak pro sastapada, komentar ini kemudian di sempurnakan oleh penganut Budha lainnya terutama Digmaga. Akhirnya logika terus sebagai metode “berdebat”. Indonesia, nampaknya logika keluar begitu dipahami maknanya. Baru sedikit orang saja yang menaruh perhatian secara ilmiah pada logika. Kiranya sudah saatnya untuk memperluas serta mengembangkan studi terutama logika. Perluasan serta mengembangkan ini merupakan salah satu usaha untuk mempertinggi taraf Intelegensi setiap orang Indonesia dan bangsa Indonesia seluruhnya.
Materi Perkuliahan : "Dasar-Dasar Logika" Bagi Mahasiswa FISIP Universitas Musi Rawas
Tags
Pembelajaran
